Senin, 06 Juni 2016

Catatan Ramadhan #1: Tentang Kepulangan dan Rindu


Sejak kemarin di kepala saya ramai dengan pertanyaan “akan bagaimana saya melewatkan 1 Ramadhan tahun ini?”. Di tanah kelahiran saya sudah menjadi budaya mengawali Ramadhan bersama keluarga. Dulu, semasa kuliah di Kota Makassar, Ibuk lah yang paling rewel menanyakan “kapan pulang? Ini sudah mau satu puasa!” dan saya akan pulang ke rumah Ibuk dan Bapak H-2 atau H-1 Ramadhan. Ini bukan pertama kalinya mengawali bulan penuh berkah ini tidak bersama Ibuk dan Bapak. Waktu itu, di tahun 2011, saya sedang mengikuti program KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sebuah program refreshing sebelum memulai tugas akhir hehehe. Saya ditempatkan di Kecamatan Suppa Kab. Pinrang, sekitar 4 jam dari Kota Makassar dengan menggunakan mobil. Rumah yang menjadi Posko KKN tidak begitu jauh dari rumah nenek di Kota Pare-Pare karena letaknya yang merupakan perbatasan antara kota tersebut. Cukup dengan mengendarai motor selama 10-20 menit, saya sudah bisa tersenyum lebar di depan rumah nenek. Tahun itu saya meminta ijin Ibuk dan Bapak untuk tidak pulang. Saya ingin mengawali Ramadhan di rumah nenek. Ramadhan 2013, kali ke dua saya tidak pulang ke rumah karena saya terus menunda-nunda jadwal kepulangan. Akhirnya, Bapak dan Ibuk meminta saya untuk tetap di Makassar karena mereka berdualah yang akan mngunjungi saya demi momen 1 puasa bersama. Kali ke tiga adalah tahun 2015 lalu. saya melewatkan momen 1 Ramadhan di Kota Kupang bersama teman-teman Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ 2015) dan seluruh Bapak-Bapak serta abang-abang TNI AL kru KRI-Banda Aceh 593. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Momen begadang menunggu waktu sahur di ruang laundry, momen tarwih bersama di hanggar helly, menjalani puasa pertama di Kota Kupang yang notabene bukan mayoritas muslim dengan matahari seperti sejengkal di atas kepala, buka puasa pertama: antri sendok dan rusuh di area meja es buah (ini mah berlangsung terus untuk hari-hari berikutnya, hehehhe). Sebuah pengalaman yang tak terlupakan yang harus dibayar dengan melewatkan momen kumpul keluarga di 1 Ramadhan. Unforgetable moment itu memang mahal harganya, Bung!

Rabu, 11 Mei 2016

Surat Untuk Arung #1



Arung, apakah kabarmu baik-baik saja? Ku harap Februari ini tak lantas membekukanmu di sana. Kotamu cukup ramah bukan? Aku tahu kau selalu bisa beradaptasi dengan cepat. Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah novel berlatarkan kotamu. Buku apa yang terakhir kau baca? Masihkah kau menyimpan buku-buku yang ku hadiahkan? Kau tahu, aku memikirkanmu. Ini bukan pertama kalinya aku menulis untukmu. Aku tidak pernah berbicara tentangmu pada siapapun sebelumnya. Tapi, di awal tahun ini aku berani menyebutkan namamu pada 2 orang sahabatku. Mereka berdua adalah orang yang selalu mengerti dan mau mendengar segala celotehanku, termasuk tentangmu. Aku bisa membayangkan bagaimana raut wajah mereka ketika mereka membaca tulisan ini.

Jumat, 22 April 2016

Pariwisata Aceh: Sebuah Magnet di Ujung Barat Indonesia



Suatu hari ketika saya mengikuti program pertukaran pelajar ke negeri matahari terbit, hostfam dengan peta di meja meminta saya menunjukkan di mana letak Indonesia. Lalu saya menunjukkannya mulai dari ujung barat ke timur, utara ke selatan. 

Whoa, sugoi ne. Teriak mereka histeris dengan mata yang terbelalak.

Mereka pun meminta menunjukkan tempat tinggal saya di peta itu. Lalu saya tunjukkan tepat di ujung selatan pulau Sulawesi. Okasan kemudian menanyakan, ”apakah kamu sudah mengunjungi seluruh pulau di negaramu?”. Jleb. Saya cuma bisa nyengir dan mengatakan, “jangankan seluruh Indonesia, mengelilingi Pulau Sulawesi saja saya belum khatam.” 

Whoa,  kamu harus mengunjunginya. Suatu hari kamu harus mengelilingi negaramu. Kami sekeluarga mungkin belum pernah mengunjungi Indonesia, tapi saya yakin negaramu adalah negara yang indah dan kamu harus mengenalinya.” Begitu nasihat Otoosan malam itu. Nasihat yang selalu menjadi api abadi, pembakar semangat untuk mengunjungi seluruh pelosok negeri ini.

Indonesia merupakan negara maritim, yang menurut Badan Informasi Geospasial memiliki luas wilayah
Pulau Kodingareng Keke, Sulawesi Selatan (sumber: dok pribadi)
perairan 6.315.222 km2 dengan panjang garis pantai 99.093 km2 serta jumlah pulau 13.466 pulau yang bernama dan berkoordinat. Data tersebut tidak akan bisa membuat kita ragu lagi bahwa sepotong surga yang jatuh ke bumi ada di Indonesia. Lahir dan besar di sebuah daerah pesisir berjulukan Butta Panrita Lopi (Tanah para Pengrajin Perahu) membuat saya sejak kecil menjadi penyuka pantai dan laut. Dimanjakan dengan keindahan pasir putih Pantai Bira dan pemandangan bawah lautnya tidak lantas membuat saya mager  dan berdiam di tanah kelahiran saja. Pulau Salemo, Samalona dan Kodingareng Keke adalah pulau-pulau kecil di Sulawesi Selatan yang sempat saya kunjungi. Namun, darah pelaut bugis dan mandar yang mengalir dalam tubuh membuat semangat menjelajah seperti setia meletup-letup mengiringi tiap denyutan jantung.

Senin, 29 Februari 2016

Hujan dan Lelaki Penabung Rindu




Aku selalu membayangkan di atas awan sana ada seorang lelaki. Lelaki penabung rindu. Ia mengumpulkan rindunya pada setiap gumpalan awan. Sungguh, ia lelaki yang tabah, menampung dan menahan rindu agar tak jatuh ke tanah. Di kepalanya begitu sesak dengan berbagai cemas. Ia takut kalau-kalau saja rintih rindunya menetes, menyapa tanah, lalu menumbuhkan harap. Sementara, ia belum tahu apa yang harus dilakukan untuk merawat harap itu. Lelaki itu begitu khawatir jikalau harap yang terlanjur mengakar suatu hari harus terkulai layu karena tak mampu menghalau ganasnya sinar sang mentari. Ia selalu saja cemas bahwa rindunya tak pernah cukup. Pun ia terlalu cemas jikalau rindu ia tumpahkan tak berbendung, suatu hari akan mengikis-lenyapkan keindahan tanah. Menggenanginya dengan air mata. Suatu hari, lelaki itu meyerahkan diri. Menyatu dalam gumpalan-gumpalan awan penampung rindu. Membiarkan jiwanya bebas diterbangkan angin. Ia percaya suatu hari rindunya akan jatuh di waktu dan tempat yang tepat. Menjadikan rindunya adalah hujan yang dinanti tanah. Hujan rindu yang merdu. Lelaki itu percaya hujan dan tanah akan bertemu pada garis yang sama. Tertawanlah tumpukan rindu, menggulung-gulung diarak sang angin.
***

Kepada lelaki penabung rindu di atas sana
nikmatilah kemana angin membawamu
percayalah ada tanah yang melapangkan setianya
mendoakanmu 





sumber gambar: di sini